Menulis Kreatif: Suasana Mencari - Sekmen
Headlines News :
Sekolah menulis FLP Sumbar. Berkarya bersama cita-cita besar menjadi penulis besar. alizartanjung@gmail.com
Home » , » Menulis Kreatif: Suasana Mencari

Menulis Kreatif: Suasana Mencari

Written By Alizar tanjung on Jumat, 11 Januari 2013 | 23.51


Oleh Hasneli Suryani

Minggu pertama di Januari 2012. Semangat 45 kawan-kawan FLP(Forum Lingkar Pena) Sumatera Barat menyambut paagi dengan sinaran penuh mentari. Dan awan menari-nari seolah sangat memahami rasa penasaran pada materi pagi ini. Satu-persatu peserta Sekmen mulai datang. Kami dapat kabar sebelumnya kalau pemateri kali ini penulis kreatif muda wanita pula. Wah makin penasaran.
Suasana mencair, setelah menugggu beberapa waktu kak Siska datang bersama suami dan anaknya. Patut di acungkan jempol. Meskipun masih kuliah di semester akhir tapi beliau menjalankan tugas dengan baik. Aku menyalami kak Siska sambil mengenalkan namaku. Si pangeran kecil begitu lucu. Seolah mengerti dengan karyaku yang di berikan padanya. Aku ta’jub.
Jam sudah menunjukkan 09.30 WIB. Peserta yang datang baru lima orang setelah menunggu jeda lima menit  diskusi dimulai  yang dipimpin oleh panita Qori namanya terdenagar samar karena tidak ada perkenalan resmi antara panitia dan anggota sekmen yang baru mahasiswi Universitas swasta semester tiga. Lalu diserahkan pada pemateri untuk memberikan wejangannya.
Diskusi pun dimulai Siska itulah nama lengkapnya. Mahasiswi di salah satu perguruan tinggi Islam di kota Padang. Beliau kakak tingkatku di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.  Kelahiran Bukittingi, 1988. Menimba ilmu di rantau industry dan  sudah bergabung dengan Forum Lingkar Pena Pekan Baru.
Kali ini kak Siska menggali permasalahan pada diri peserta sekaligus masukan ke depannya. Lebih tepatnya pertemuan kami dengan kak Siska sebagai Ketua FLP Sumatera Barat ini bisa dikatakan dengan sharing  perjalanan di kepenulisan.
Diskusi berjalan terasa cepat dengan curhatan peserta. Segala kendala terurai sudah. Ada yang merasa putus asa karena karya yang dibuat tidak sebagus jika orang lain membuatnya, ada ide yang matang di kepala, tapi susah untuk menuliskan. Mulai dari Rival mau merancah cerpen tapi dia malah menghasilkan puisi tragisnya karya-karya yang pernah dihasilkan dirasa tidak memiliki kompeten malah di bakar, yah ide sendiri malah dibakar. Kak Riza sang pecinta buku. Malah susah menemukan waktu khusus untuk menulis. Aku menambahkan “Jika kita tidak menghargai diri kita, lalu siapa yang akan menghargai nya?.” Justru penghormatan pada diri jauh lebih penting untuk membangkitkan motivasi instrinsik yang kita tidak terfikirkan sebelumnya.
Ditengah-tengan diskusi, si pangeran sedikit bawel waktu menunjukkan jam sebelas lewat, sepertinya mengantuk. Sembari kak Siska menidurkan si pangeran kami diberi tugas untuk  merangkai tiga kata: kotak, jingga dan pesona.  Dalam sepuluh menit. Peserta sekmen bergegas mengambil kertas dan pena. Segera merangkai kata menjadi terikat dalam makna. 
Dan lahirlah karya tiba-tiba. Kadang kita butuh pengawas untuk membanting kemalasan dalam diri biar terbiasa melakukan sesuatu karena ada yang menunggunya selesai. Dalam waktu yang telah ditentukan semua peserta sekmen menyelesaikan tantangannya. Ada ang berhasil menulis sampai 125 kata bahkan walau belum selesesai tapi sudah tau akhir kisahnya seperti apa this wonderful. Cuma sepuluh menit lho. Minimalnya ada yang menulis 28 kata. Semua panitia juga ikut serta dan menyelesaikannya kecuali Qori yang menjadi moderator tadi. Katanya tidak ada ide untuk menulis dengan waktu yang sesingkat itu.
Pada intinya menulis kadang membutuhkan waktu yang terdesak. Hati-hati dengan Jerry yang tersudutkan oleh Tom. Ia dapat melampaui batas kemampuan dari yang biasanya. Begitu juga dengan ide-ide itu. Sama kaya ngerjain tugas kalo ga deadline ga selesai. Tapi balik lagi ke masing-masing pribadi.  Kita mau hasil yang dirancang dengan matang atau ide kebut semalam.
Bagiku menulis seperti kebutuhanku mendengar musik yang punya timing tersendiri. Meski belum menjadi kebiasaan setidaknya sudah punya tempat dikehidupanku ini. Seperti kisah pada cerita berkarya atau mati jika kita berbicara hal yang seharusnya.
Share this article :

0 komentar:

Pengunjung

Berlangganan Iklan

Buku Tamu


Get this widget!
facebook
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Sekmen - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template