Menulis Tiketku Keliling Dunia - Sekmen
Headlines News :
Sekolah menulis FLP Sumbar. Berkarya bersama cita-cita besar menjadi penulis besar. alizartanjung@gmail.com
Home » , » Menulis Tiketku Keliling Dunia

Menulis Tiketku Keliling Dunia

Written By Alizar tanjung on Rabu, 23 Januari 2013 | 18.55

Laporan: Riri Diana
Minggu, 20 Januari 2013 dengan penuh semangat ku langkahkan kaki untuk mengikuti sekolah menulis FLP SUMBAR. Hari ini memasuki pertemuaan ke-9 yang merupakan sekmen terakhir di tahun 2013. Seorang pemateri yang luar biasa dihadirkan untuk membawa kami bermimpi keliling dunia. Seorang novelis yang pernah melalang buana sampai ke negri suku Aboringin ini menyempatkan hadir untuk sharing bersama kami. Beliau adalah sastrawan Sumbar, Darman Moenir.

Acara diawali oleh Alizar Tanjung seorang sastrawan muda dari Sumbar. Ditambah Sedikit siraman dari Al-quran surat as-syuara. “Alqur’an mengandung Syair-syair yang sangat indah dan tidak bisa ditiru oleh orang zaman sekarang, apalah jadinya jika dahulu alquran itu tidak dituliskan pastilah kita tidak akan dapat menikmati saat sekarang ini. Begitu juga karya, jika tidak dituliskan maka tidak akan dinikmati oleh generasi selanjutnya.” Begitu kata beliau.


Acara di serahkan sepenuhnya kepada Darman Moenir yang dimoderatori oleh seorang puisitis, Neli. Wajah yang bersinar dan senyuman yang iklas manghampiri kami satu-persatu ketika berkenalan dengan beliau. “Orang besar itu bermula dari menulis. Tidak semua orang bisa menulis. Seorang yang pintar bicara belum tentu pintar menulis, tapi seorang yang pintar menulis pasti pintar dalam bicara.” Satu kalimat pertama yang membuat mata kami terpaku olehnya.


Mewujudkan targetan sekmen FLP yang terakhir, maka hari ini Darman Moenir membahas mengenai “ bagaimana menulis novel yang fenomental dan tidak mengulang novel-novel sebelumnya.”


“Apa yang telah ditulis Buya Hamka tidak perlu ditulis lagi, sekarang saatnya kita menciptakan karya baru bukan meniru bentuk karya orang lain.”Tambah beliau.

Seorang penulis novel bako ini menanamkan kepada kami “kuasai mother language terlebih dahulu untuk bisa menjadi penulis. Jika telah menguasai mother language maka jangan segan menyunting karya orang lain yang salah berdasarkan mother language. Mother language adalah kunci utama penulis.”Tambah beliau.
Riza yang hampir menyelesaikan sebuah novel perdananya menayakan “Bagaimanakah menulis novel yang bagus itu.”Tanya Riza.

“Novel yang bagus tidak terlepas dari konflik, konflik menghidupakan novel yang mati. Ciptakan konflik dalam novel berdasarkan kehidupan sehari-hari, bercerminlah kepada beberapa novel yang terdapat perjuangan didalamnya seperti the old man in the sea, rumah mati diserebia, bumi manusia dan lain-lain.” Jawab Darman Moenir.

Tak sabar dengan segudang pertanyaan, Dini malah mengancungkan tangan lebih cepat dari peserta lain, dengan jujur dini yang belum membaca novel bako menanyakan. “ Apa yang menjadi konflik utama dari novel bako hingga bako menjadi novel yang populer”. Tanya Dini.

“Bako adalah novel Roman bercerita tentang konflik kepribadian yang dialami oleh tokoh ibu yang menjalani kehidupan tidak sesuai dengan tatanan adat dalam masyarakat Minangkabau. Roman bako inilah yang membawa saya keliling dunia bahkan sampai ke Amerika.”


Kamipun dihanyutkan dengan pengalaman inspiratif beliau melalui novel-novel yang telah diciptakanya, “Berkelana didunia lewat tulisan seolah-olah hanya mimpi. Lewat tulisan saya dikenal manusia dibelahan dunia Barat. Tulisan mengantarkan saya ke Bali, Malaysia, Singapura, Filipina, Sri Lanka bahkan sampai ke Amerika. Ini adalah pengalamnan hidup yang tak terlupakan hingga kapanpun” Begitu kata beliau.

“Maka teruslah menulis sampai tulisan-tulisanmu menjadi tiket perjalanan keliling dunia.” Begitu banyak kata-kata motivasi dari beliau yang membuat mata kami tak berkedip di depanya.

Diskusi berjalan seiring detingan jam,waktu yang tak pernah berkompromi menunjukan jam 12.00 WIB. Setelaah istirahat acara diambil alih kembali oleh Alizar Tanjung. Saatnya evaluasi tugas-tugas yang diberikan minggu lalu. Dimulai dengan evaluasi para peserta yang telah mengirimkan karya ke 3 media yang berbeda. Teryata banyak diantara kami yang telah mengirimkan karya-karyanya dan terbit di media. Diantaranya laporan berita yang ditulis Riri terbit di salah satu koran lokal minggu ini.

Acara wisuda FLP Sumbar akan diadakan bulan Februari dan selajutnya diskusi akan dilanjutnya diruang terbuka seperti taman budaya dan taman melati. Melalui ruang terbuka akan mendapat inspirasi baru bagi penulis. Diskusi akan dilanjutkan 2 minggu berikutnya dengan agenda bedah karya masih-masing kami. Kami diberi tugas untuk berkarya sebanyak-banyaknya dengan melakukan gerakan 1 hari satu karya.
Salam berkarya
Share this article :

0 komentar:

Pengunjung

Berlangganan Iklan

Buku Tamu


Get this widget!
facebook
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Sekmen - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template