Ketika Burung Memilih Hinggap dan Menetas - Sekmen
Headlines News :
Sekolah menulis FLP Sumbar. Berkarya bersama cita-cita besar menjadi penulis besar. alizartanjung@gmail.com
Home » , » Ketika Burung Memilih Hinggap dan Menetas

Ketika Burung Memilih Hinggap dan Menetas

Written By Alizar tanjung on Rabu, 19 Desember 2012 | 22.51

Oleh Alizar Tanjung
Motivasi Menulis

Add caption
Selama tanggal 16 sampai 20 Desember 2012, jari-jari tangan saya disibukkan oleh persoalan burung siang harinya. Burung yang terbang dengan murung. Burung yang terbang dengan riang. Burung yang terbang dengan air mata yang menetas. Saya menuliskannya bukan tanpa sadar. Saya menuliskannya dengan sadar. Persoalannya mengapa saya menuliskannya di FB, pertanyaan inilah yang mungkin tidak terjawab oleh saya.

Seorang adek berkomentar, status abang lain saja dari yang lain. Saya hanya bilang syukurlah kalau begitu. Sementara orang suka curhat dan membuat hal-hal tidak menentu di fb, tambahnya. Tidak sekali ini saya mendapatkan pujian dari seorang teman, karib, atau sahabat yang mengomentari status saya. Saya tidak bermaksud untuk meninggikan diri saya, saya hanya ingin berbagai kepada siapa yang berkenan mengutip atau membaca tulisan ini

Potongan-potongan tulisan itu kembali saya tuliskan di sini dalam bentuk sususan acak, di mana di mulai dari postingan terakhir


Kenapa engkau ikut pula menangis wahai suara batin. Sebab engkau menangis. Kau itu kadang-kadang lugu dan lucu. Berhentilah kau menangis. Burung menggerakkan sayapnya. Sayap dalam bating melunakkan suara. Kalau begitu mari kita sama-sama terbang kepada ketinggian. Biarkan tubuh kita melayang walau nanti mesti balik lagi ke ranting tempat kita bermula terbang. Terbanglah mereka melewati pagi yang dingin, angin yang kering
Duhai burung yang malang, yang merenungkan mengapa ia terbang tinggi, mengapa ia hinggap di dahan, wahai burung yang malang yang merenungkan mengapa ia berkicau dan kembali terdiam. Dan air mata burung itu berderai, menetes, membasahi sepi yang begitu sunyi. Maka berkicaulah dia sekeras-kerasnya.

Seekor burung memilih terbang, terbang tinggi ia meninggalkan kebingungan, menuju dirinya.

Ah, entah si burung yang kini malang itu, merenung, hendak terbang ia urung, hendak berdiri ia terpaku sendiri, barangkali setelah hari ini apakah lagi yang menarik dan membuat sepi selain mengkaji pulang ke asal. Makan diamlah burung itu sediam batu.

Di tempat lain di tempat tersunyi, seekor burung tertunduk menghitung-hitung ranting dan daun yang dia kumpulkan, menghitung-hitung dirinya dan masa lalu. Kemudian dia kembali memicingkan mata, tidur-tidur ayam.

Wahai suara batinku, ujar burung memecah kesunyian. Boleh aku jatuh cinta. Maksudku setidaknya menghembuskan angin cinta. Kenapa engkau ingin pula memiliki kasmaran dalam hatiku. Tidak, tidak kenapa-napa. Bolehkah? Suara batin itu diam. Kemudian tersenyum.
"Apa yang kau sesalkan wahai burung." Aku hanya sedang mensyukuri cinta, jawabnya. Lalu kenapa engkau menangis, jawab suara dari dalam batinnya. Sebab Tuhan telah mengumumkan aku. Suara dari dalam batinnya menangis. Menangislah bertalu-talu antara suara batin dan suara burung yang telah parau.

Apa yang begitu menarik dengan tulisan saya ini sehingga saya menuliskannya kembali? Pertanyaan ini saya lontarkan kepada diri saya sendiri sebagai pemilik dari kata-kata ini. Pertanyaan ini saya ingin juga lontarkan kepada kawan-kawan yang membaca tulisan ini.
Apa yang menarik, ya, apa yang menarik dari sebuah tulisan ini? Saya kembali mengulang bacaan saya sebelumnya dalam perjalanan hidup Karni Ilyas. Kalau anda hendak membaca suatu buku, dan buku itu belum dituliskan orang, maka andalah yang akan menuliskannya.
Burung itu mungkin hari telah terbang dari kepala saya. Atau masih dalam kepala saya. Sedang tertidur, ngantuk-ngantuk ayam. Bisa juga burung itu sedang terbang tinggi atau membuat suami atau bini baru dalam kepala saya. Semuanya bergantung kepada kepala saya memainkan perang. Kalau kepala saya menginginkan burung itu terbang rendah dengan jemarinya menyentuh daun-daun basah, maka burung itu sedang seperti itu pekerjaannya dalam kepala saya.
Ya, ini adalah persoalan ide. Saya merasa sudah berdosa kepada diri saya sendiri, karena ide saya buang-buang di FB. Burung-burung yang saya terbangkan di facebook, adalah ide dasar tulisan saya. Barangkali itulah kenapa saya menuliskannya di dinding facebook. Sebab kepala saya meminta untuk menuliskannya.
Inilah yang hendak saya bagikan kepada kawan-kawan. Bagaimana ide berlahiran dalam kepala. Dan bagaimana ide dituliskan dalam bentuk tulisan yang lebih panjang. Dalam bentuk tulisan yang lebih menggigit. Sebab ide dia adalah kerbau liar yang dijinakkan. Barangkali inilah yang harus dilakukan oleh para pengarang pemula. Menjinakkan kerbau liar dalam kepala masing-masing.
Kerbau liar harus dijinakkan setiap hari. Harus dibiarkan dia berenang di kubangan baru ditarik kembali ke daratan setelah hari sedikit gelap. Ide dalam kepala pengarang juga harus dijinakkan. Caranya bagaimana menjinakkan ide dalam kepala? Caranya seperti menjinakkan kerbau liar setiap hari. Ide itu setiap hari dijinakkan, diolah, dikasih sayangi.
Omong kosong kalau calon penulis ingin jadi penulis terkenal, penulis hebat, tetapi tidak mau menulis atau mengasah kemampuannya menulis setiap hari. Barangkali hanya akan tinggal di angan-angan. Penulis yang  mengatakan dirinya ingin menjadi penulis terkenal, pasti ketika jalan ke sana itu ia terangi dengan pena, buku, bacaan koran, alam.

Saya mengingat kembali ketika memasuki hutan-hutan lebat di masa-masa kecil saya. Bapak dan ibu suka membawa ke ladang. Memasuki kayu-kayu besar. Hutan-hutan rapat. Bapak mengolah ladang di Garogok dan Parak Dalam dengan parang, cangkul, cengkok. Bapak merambah semak-semak liar dengan parang, hingga semak-semak itu bersih. Bapak dan ibu mencangkul tanah-tanah kering, tanah berakar ilalang, tanah-tanah berpakis menjadi lahan gambut.

Barulah setelah lahan itu bersih, tanah itu dapat ditanami kentang, tomat, cabe, bawang, markisah. Bapak menikmati hasil ladang. Menulis adalah serupa Bapak dan Ibu saya mengolah ladang. Pada akhirnya sekolah menulis dikembali kepada pribadi-pribadi yang ikut di dalamnya. Apakah akan memilih menjadi penulis terkenal dalam angan-angan atau memilih mewujudkannya dengan terus merambah, menyiangi, mengolah, menanam benih itu.*rumahkayu, 2012

Share this article :

0 komentar:

Pengunjung

Berlangganan Iklan

Buku Tamu


Get this widget!
facebook
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Sekmen - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template